Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menyentuh level tertinggi sejak 2023 pada Jumat (6/3/2026), seiring meningkatnya ketegangan perdagangan dengan Iran yang memicu kekhawatiran pasar global.
Minyak mentah Brent ditutup di level USD 92,69 per barel atau sekitar Rp1,57 juta, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di posisi USD 90,90 per barel atau setara Rp1,54 juta pada penutupan perdagangan hari tersebut. Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak global yang berkepanjangan.
Dilansir dari AFP, Sabtu (7/3/2026), gejolak di pasar energi juga berdampak pada bursa saham Eropa. Indeks STOXX 600 pan-Eropa menutup pekan dengan penurunan 5,5 persen, menjadi pelemahan terbesar dalam hampir satu tahun terakhir. Pada perdagangan Jumat saja, indeks tersebut merosot 1 persen hingga menyentuh level terendah dalam lebih dari dua bulan. Bursa Frankfurt dan Paris mencatatkan penurunan mingguan terburuk sejak April, sementara Madrid mengalami koreksi paling tajam dalam empat tahun.
Di tengah tekanan tersebut, sektor energi menjadi satu-satunya yang mencatatkan penguatan. Indeks sektor ini naik 0,8 persen, terdorong oleh lonjakan harga minyak mentah di pasar global.
Kenaikan harga minyak juga dipicu pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui platform media sosial Truth. Ia menegaskan bahwa tidak akan ada kesepakatan dengan Iran selain “penyerahan tanpa syarat”. Pernyataan tersebut semakin memicu kekhawatiran pasar mengenai kemungkinan konflik berkepanjangan yang dapat mengguncang pasar energi sekaligus menekan kepercayaan investor di pasar saham Eropa.
Sejak konflik meningkat, sejumlah infrastruktur energi telah menjadi sasaran serangan. Kondisi semakin rumit dengan penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Penutupan ini secara signifikan membatasi ketersediaan minyak mentah di pasar internasional.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai setiap hari Selat Hormuz tetap tertutup akan memperbesar tekanan terhadap pasar minyak global. Sementara itu, analis Kpler, Homayun Falakshahi, memperingatkan jika kondisi ini berlangsung lama, rasionalisasi produksi serta pengurangan aktivitas kilang mungkin tak terhindarkan, terutama di kawasan Asia dan Timur Tengah.
Keterbatasan pasokan juga mendorong para pembeli internasional mencari sumber minyak alternatif. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memang memiliki jalur distribusi yang sebagian dapat menghindari Selat Hormuz, namun sekitar 8,7 juta barel per hari masih terhambat akibat penutupan jalur tersebut.
Di sisi lain, China meminta kilang-kilang utamanya untuk menunda ekspor solar dan bensin guna mengantisipasi potensi kekurangan pasokan domestik. Langkah ini justru semakin meningkatkan volatilitas di pasar energi global.
Pemerintah Amerika Serikat juga mengambil langkah sementara dengan mengizinkan pengiriman minyak Rusia yang sebelumnya dikenai sanksi ke India. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas pasokan energi bagi New Delhi yang terdampak langsung oleh konflik tersebut.
Di pasar berjangka, harga minyak mentah AS melonjak lebih dari 10 persen sepanjang akhir pekan, sementara Brent naik lebih dari 6 persen—kenaikan mingguan terbesar sejak awal pandemi pada 2020.
Menteri Energi Qatar bahkan memperingatkan kemungkinan seluruh produsen minyak di kawasan Teluk menghentikan ekspor dalam beberapa minggu ke depan. Dalam wawancara dengan Financial Times, ia menyebut kondisi itu berpotensi mendorong harga minyak hingga mencapai USD 150 per barel.
“Skenario terburuk sedang terjadi di depan mata kita,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital.
Penutupan Selat Hormuz selama tujuh hari saja telah menghambat pengiriman sekitar 140 juta barel minyak, setara dengan 1,4 hari konsumsi minyak global. Analis SEB, Ole R. Hvalbye, menekankan bahwa sekalipun jalur tersebut kembali dibuka, pasar tetap akan menghadapi keterlambatan panjang sebelum produksi kembali normal.
Di pasar saham global, ketegangan semakin meningkat setelah laporan lapangan kerja Amerika Serikat menunjukkan penurunan tak terduga disertai kenaikan tingkat pengangguran. Kondisi ini memperumit ekspektasi penurunan suku bunga.
Sejumlah sektor di Eropa ikut terpukul, termasuk perbankan dan perusahaan layanan kesehatan. Saham HSBC, Allianz, Zealand Pharma, hingga Roche tercatat mengalami penurunan signifikan, dipengaruhi oleh kinerja perusahaan dan ketidakpastian ekonomi global.
Para analis memperingatkan, jika konflik di Timur Tengah terus memanas, dampaknya tidak hanya pada pasar energi, tetapi juga berpotensi memicu resesi ekonomi global akibat lonjakan harga energi dan meningkatnya ketidakstabilan sistem keuangan internasional.











