SANGATTA, – Di balik kostum lucu dan gerakan jenaka para badut di persimpangan jalan Kota Sangatta, ternyata tersimpan angka pendapatan yang mencengangkan. Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengungkap bahwa fenomena badut jalanan dan “manusia silver” kini bukan lagi sekadar masalah ekonomi, melainkan “candu” penghasilan instan yang mengkhawatirkan.
Kepala Dinsos Kutim, Ernata Hadi Sujito, membeberkan fakta mengejutkan dari hasil pantauan lapangan. Hanya dalam hitungan jam beroperasi di lampu merah, seorang badut jalanan bisa mengantongi Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per hari.
Penghasilan Fantastis, Mentalitas Terkikis
Jika dikalkulasi, pendapatan bulanan para penyaji hiburan jalanan ini bisa menyentuh angka Rp10 juta hingga Rp15 juta. Angka yang bahkan melampaui gaji rata-rata pekerja kantoran ini justru dianggap sebagai ancaman sosial jangka panjang oleh pemerintah.
”Penghasilan instan ini menimbulkan rasa ketergantungan. Mereka merasa nyaman dan akhirnya enggan beralih ke pekerjaan yang lebih layak atau aman karena merasa jalanan sudah sangat menjanjikan,” tegas Ernata.
Kondisi ini menciptakan ekonomi informal yang tidak sehat. Jalan raya yang seharusnya menjadi ruang publik untuk transportasi, kini beralih fungsi menjadi ladang mencari nafkah tanpa jaminan keselamatan.
Taruhan Nyawa di Balik Lampu Merah
Selain isu ketergantungan ekonomi, risiko kecelakaan menjadi poin krusial yang disoroti Dinsos. Aktivitas mereka yang bergerak di sela-sela kendaraan yang melaju pelan atau berhenti mendadak berpotensi memicu manuver berbahaya bagi pengendara lain.
Tak hanya itu, Ernata juga memberikan perhatian khusus pada keterlibatan anak-anak. “Anak-anak sangat rentan dieksploitasi. Mereka kehilangan hak atas pendidikan hanya demi menarik simpati di aspal panas,” tambahnya dengan nada prihatin.











