SAMARINDA — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Samarinda terus memperkuat kolaborasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda dalam mendorong percepatan pengembangan transportasi umum (transum) yang lebih tertata, aman, serta terintegrasi di Kota Tepian.
Ketua Umum HMI Cabang Samarinda, Achmad Fawwaz, menegaskan bahwa pembangunan sistem transportasi publik tidak dapat dilepaskan dari perencanaan tata kota yang terintegrasi. Menurutnya, Samarinda perlu mulai mengarah pada konsep pembangunan kota modern yang mampu memadukan sistem transportasi, pusat aktivitas masyarakat, dan tata ruang yang efisien.
“Jika kita melihat kota-kota besar yang berkembang pesat, transportasi publik selalu ditopang oleh perencanaan kota yang matang. Di Samarinda sendiri masih ada tantangan besar, salah satunya belum hadirnya kawasan dengan konsep mixed use development yang benar-benar terintegrasi,” ungkapnya.
Fawwaz menjelaskan, konsep mixed use development merupakan model pembangunan kawasan yang menggabungkan berbagai fungsi dalam satu area, mulai dari hunian, perkantoran, pusat perdagangan, hingga fasilitas publik. Dengan konsep ini, mobilitas masyarakat menjadi lebih efisien karena berbagai kebutuhan dapat diakses dalam satu kawasan yang sama.
“Selama ini pola pembangunan di Samarinda masih cenderung terpisah. Permukiman berada jauh dari pusat aktivitas, sementara fasilitas publik tidak selalu terhubung secara langsung. Kondisi ini membuat masyarakat sangat bergantung pada kendaraan pribadi,” jelasnya.
Ia menilai, pemerintah kota ke depan perlu mulai merancang kawasan-kawasan baru yang mengadopsi konsep mixed use serta terhubung dengan sistem transportasi umum. Hal tersebut juga sejalan dengan gagasan Transit Oriented Development (TOD) yang saat ini mulai banyak diterapkan dalam pengembangan transportasi perkotaan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kota Samarinda menjelaskan bahwa Transit Oriented Development (TOD) merupakan konsep pembangunan kawasan yang berorientasi pada transportasi publik, di mana pusat-pusat aktivitas masyarakat dirancang berada di sekitar simpul transportasi.
“Melalui konsep TOD, masyarakat akan lebih mudah mengakses transportasi umum karena berbagai pusat kegiatan seperti perkantoran, perdagangan, hingga permukiman berada dekat dengan jalur transportasi publik,” terangnya.
Selain mempermudah mobilitas, konsep ini juga dinilai mampu mendorong terciptanya kota yang lebih ramah bagi pejalan kaki sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi yang selama ini menjadi salah satu penyebab kepadatan lalu lintas.
Dishub Samarinda pun mengapresiasi perhatian organisasi mahasiswa seperti HMI yang aktif memberikan masukan terhadap pengembangan transportasi dan tata kota di daerah.
Melalui sinergi antara pemerintah dan elemen masyarakat, diharapkan pengembangan transportasi publik di Samarinda dapat berjalan lebih optimal serta menjadi solusi jangka panjang dalam mewujudkan sistem mobilitas kota yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan.











