Gejolak pasar global kembali memanas seiring konflik Amerika Serikat–Israel dengan Iran yang kini memasuki pekan kelima. Lonjakan harga minyak dunia disertai tekanan tajam di bursa saham Asia menjadi alarm keras atas meningkatnya risiko terhadap stabilitas ekonomi global.
Harga minyak mentah Brent dilaporkan melesat hingga USD115,20 per barel, naik lebih dari 3 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turut menguat ke level USD101,62 per barel. Kenaikan ini menandai lonjakan bulanan paling signifikan dalam beberapa waktu terakhir, mengingat pada akhir Februari harga Brent masih berada di kisaran USD72 per barel.
Di saat yang sama, pasar saham Asia terseret dalam tekanan hebat. Indeks Nikkei 225 Jepang anjlok sekitar 2,8 persen, sedangkan Kospi Korea Selatan terkoreksi hampir 3 persen. Pelemahan ini dipicu kekhawatiran investor terhadap potensi terganggunya pasokan energi global, terutama bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor minyak dari kawasan Timur Tengah.
Situasi kian memanas setelah kelompok Houthi di Yaman ikut terlibat dengan melancarkan serangan ke Israel. Iran pun mengeluarkan peringatan keras akan memperluas aksi balasan yang menyasar kepentingan Amerika Serikat beserta sekutunya.
Ketegangan semakin meningkat menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membuka peluang penguasaan fasilitas energi strategis milik Iran, termasuk di Pulau Kharg. Pernyataan ini dinilai berpotensi memperuncing konflik sekaligus memperbesar ancaman terhadap kelancaran distribusi energi global.











