BERAU, – Gunung Tabur, salah satu kecamatan sekaligus kelurahan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dikenal sebagai jantung sejarah dan budaya Bumi Batiwakkal. Identitas itu tercermin kuat melalui Museum Gunung Tabur (Keraton) dan jejak panjang Kesultanan Berau yang masih terpelihara hingga kini.
Kawasan bercorak kesultanan yang lahir pada awal abad ke-19 ini menyimpan rekam jejak sejarah yang kaya, lengkap dengan pesona budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat. Kini, Gunung Tabur terus bertransformasi menjadi destinasi wisata sejarah, budaya, dan kuliner yang terintegrasi dengan panorama sungai serta dukungan fasilitas baru.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau pun menegaskan bahwa pelestarian sejarah harus menjadi napas utama dalam setiap langkah pembangunan Gunung Tabur.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, memastikan komitmen pemerintah daerah untuk mendorong kemajuan Gunung Tabur sepanjang tahun ini. Fokus pembangunan tidak hanya pada penguatan warisan sejarah, tetapi juga pengembangan ekonomi kreatif dan UMKM, peningkatan pelayanan dasar, hingga pembenahan infrastruktur.
“Setiap kecamatan memiliki keunggulan tersendiri. Gunung Tabur istimewa karena tradisi kesultanannya masih terjaga sebagai wujud pelestarian budaya dan adat istiadat,” ujar Sri Juniarsih, Minggu, 22 Februari 2026.
Ia menjelaskan, Kesultanan Gunung Tabur lahir dari pemecahan Kesultanan Berau pada masa Raja Berau ke-9, Aji Dilayas. Konflik perebutan takhta kala itu membagi wilayah menjadi dua kekuasaan: Gunung Tabur dan Sambaliung.
Dalam catatan sejarah, Kesultanan Gunung Tabur pernah mencapai masa kejayaan dengan wilayah kekuasaan yang membentang hingga sebagian besar Kalimantan Utara dan berbatasan langsung dengan Brunei Darussalam. Namun, pada 1945, Istana Gunung Tabur hancur akibat pengeboman Sekutu saat Perang Dunia II.
Istana tersebut kemudian dibangun kembali oleh pemerintah daerah pada 1990 dan diresmikan pada 1992 sebagai Museum Batiwakkal. Di dalamnya tersimpan berbagai peninggalan bersejarah, mulai dari meriam, singgasana, hingga benda-benda pusaka yang kini menjadi magnet wisata sejarah.
Menurut Bupati, minat wisatawan terhadap Gunung Tabur terus meningkat seiring lestarinya tradisi kesultanan, seperti Baturunan Parau—gotong royong menurunkan perahu ke sungai—serta ritual Manyandru yang masih rutin digelar.
“Tradisi kesultanan ini tetap hidup berkat dukungan dan kolaborasi semua pihak,” imbuhnya.
Di sektor ekonomi, Pemkab Berau juga mengembangkan Pasar Barambang yang sejak awal 2026 aktif menjadi pusat kuliner dan promosi UMKM. Berlokasi di tepi sungai, tak jauh dari Museum Gunung Tabur, pasar ini beroperasi setiap Sabtu dan Minggu malam, menghadirkan kuliner khas Berau dan aneka jajanan nusantara.
Tak berhenti di situ, pembangunan infrastruktur pun terus digenjot. Mulai dari pembangunan dan rehabilitasi jalan, perbaikan drainase dan irigasi, normalisasi sungai, penguatan tebing, peningkatan sistem air minum, hingga lanjutan pembangunan TPS 3R.
Melalui perpaduan antara pelestarian sejarah dan percepatan pembangunan infrastruktur, Gunung Tabur ditargetkan tumbuh sebagai destinasi wisata budaya unggulan sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi baru di Berau.
“Sinergi antara Pemkab Berau, pihak swasta, dan masyarakat diharapkan mampu menjadikan Gunung Tabur sebagai ikon sejarah dan budaya yang maju, bersih, serta membanggakan, bukan hanya bagi Berau tetapi juga Kalimantan Timur,” pungkasnya.











