SAMARINDA – Sektor pertanian Kalimantan Timur (Kaltim) menorehkan tinta emas sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), “Bumi Etam” sukses mencatatkan lonjakan produksi padi yang signifikan, dengan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) sebagai motor utama penggerak ketahanan pangan daerah.
Rekor Produksi dan Perluasan Lahan
Hasil survei Kerangka Sampel Area (KSA) menunjukkan realisasi luas panen padi di Kaltim mencapai 66,52 ribu hektare. Angka ini meroket 5,51 persen atau bertambah sekitar 3,48 ribu hektare dibandingkan tahun sebelumnya.
Sejalan dengan perluasan lahan, produksi Gabah Kering Giling (GKG) pun ikut terkerek tajam. Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai, mengungkapkan bahwa sepanjang Januari hingga Desember 2025, produksi GKG menyentuh angka 270,87 ribu ton, meningkat drastis 8,50 persen dari capaian tahun 2024.
“Puncak kejayaan panen terjadi pada bulan September dengan produksi mencapai 67,68 ribu ton GKG. Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi masyarakat, total produksi Kaltim sepanjang 2025 setara dengan 157,55 ribu ton beras,” jelas Mas’ud Rifai, Minggu (8/2/2026).
Kukar Tak Terbendung, Paser Membayangi
Kabupaten Kutai Kartanegara kembali membuktikan dominasinya sebagai penyangga pangan utama. Dengan total produksi mencapai 110.870 ton, Kukar menjadi kontributor terbesar yang menjaga stabilitas stok beras di Kalimantan Timur.
Tak mau kalah, Kabupaten Paser mencatatkan kejutan besar dengan lonjakan produksi hingga 67.650 ton, atau naik fantastis 27,92 persen. Sementara itu, Penajam Paser Utara (PPU) terus memperkuat posisinya di jajaran produsen utama, berbanding terbalik dengan kota-kota industri seperti Bontang dan Balikpapan yang memiliki keterbatasan lahan sawah.
Sentuhan Teknologi di Balik Panen Raya
Keberhasilan Kukar mempertahankan takhta lumbung pangan tidak lepas dari intervensi teknologi. Bupati Kukar terus mengguyur para petani dengan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) modern. Terbaru, kelompok tani di Desa Semangko, Marangkayu, menerima bantuan alat panen padi pada Kamis (5/2/2026) lalu.
Desa Semangko sendiri merupakan “harta karun” pertanian dengan luas sawah aktif mencapai 500 hektare. Dukungan alsintan ini diharapkan mampu memangkas waktu panen dan meminimalisir kehilangan hasil (losses).
“Satu alat panen idealnya melayani 50 hektare. Saat ini Desa Semangko baru memiliki tiga unit dari kebutuhan 10 unit, dan kami berkomitmen untuk terus menambahnya. Kami ingin gabah petani langsung diolah di desa menjadi beras kualitas premium melalui mesin penggilingan yang sudah siap,” ujar Aulia, pejabat setempat.
Meningkatkan Martabat dan Pendapatan Petani
Transformasi dari sekadar menjual gabah mentah menjadi beras kemasan premium di tingkat desa diharapkan menjadi titik balik kesejahteraan petani. Dengan rantai produksi yang lebih pendek dan bantuan alat modern, pendapatan petani diprediksi akan meningkat nyata.
Capaian gemilang di tahun 2025 ini menjadi sinyal kuat bahwa Kaltim, dengan Kukar sebagai ujung tombaknya, siap menjadi benteng pertahanan pangan mandiri, terutama dalam menyongsong kebutuhan pangan yang kian meningkat di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).











