KUPANG – Ruang aula Universitas Citra Bangsa, Kupang, seketika hening saat Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, meluapkan amarahnya pada Rabu (5/2/2026). Dengan nada bicara bergetar menahan malu dan kecewa, Melki menyoroti tragedi memilukan di Kabupaten Ngada: seorang siswa Sekolah Dasar (SD) nekat mengakhiri hidupnya hanya karena himpitan ekonomi—tak mampu membeli buku dan alat tulis.
Kegagalan Sistem yang Mematikan
Bagi Melki, kematian bocah malang tersebut bukan sekadar angka statistik kemiskinan, melainkan tamparan keras bagi pemerintah dan sistem sosial yang dianggapnya telah gagal total.
”Malu saya sebagai gubernur model begini. Masa ada warga negara mati hanya karena tidak bisa beli buku tulis?” cecar Melki di hadapan jajaran pejabat dan akademisi yang hadir.
Ia menyindir keras efektivitas dana bantuan sosial yang jumlahnya fantastis namun tidak mampu menyentuh mereka yang paling membutuhkan. “Guna apa kita punya PKH dan perangkat sosial lain? Uang triliunan mengalir ke NTT untuk orang miskin, tapi masih ada yang mati karena tidak bisa beli buku!” tegasnya dengan nada tinggi.
Sindir Pemkab Ngada dan Teladan Mother Teresa
Melki tidak menutup mata atas dinginnya respon Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada. Ia mengaku harus turun tangan langsung hingga malam hari untuk memastikan proses pemakaman korban dilakukan dengan hormat.
”Harus ke sana. Kuburannya tidak boleh (hanya ditimbun) tanah. Kuburkan dia dengan layak. Dia pun mati sebagai manusia,” kata Melki. Ia bahkan mengutip filosofi kemanusiaan Mother Teresa sebagai pengingat bagi para pejabatnya agar memiliki hati nurani dalam melayani rakyat kecil.
Peringatan Keras: “Jangan Ada Lagi, atau Saya Tuntut!”
Gubernur NTT ini menyebut peristiwa ini sebagai “alarm keras” bagi seluruh perangkat daerah. Ia menegaskan bahwa jika kasus ini mencuat lebih awal, dipastikan akan menjadi sorotan tajam Presiden Prabowo Subianto dalam Rakornas tempo hari.
Melki pun memberikan ultimatum terakhir kepada seluruh kepala daerah, sekretaris daerah (sekda), hingga petugas sosial di NTT:
Hentikan Kemiskinan Ekstrem: Tidak boleh ada lagi warga yang kehilangan nyawa karena kemiskinan.
Tanggung Jawab Penuh: Melki mengancam akan menuntut secara hukum pihak-pihak terkait jika kejadian serupa terulang.
Introspeksi Massal: Ia mengajak tokoh agama, DPR, dan dunia pendidikan untuk berhenti bersikap acuh tak acuh.
”Ini cukup. Ini yang terakhir. Kalau besok ada lagi, saya tuntut orang-orangnya. Kita semua yang hadir di sini harus malu. Ini pahit, tapi harus kita telan bersama,” pungkasnya menutup pidato yang penuh ketegangan tersebut.











