Samarinda – Isu anggaran laundry senilai Rp 450 juta di lingkungan rumah jabatan Gubernur Kalimantan Timur kembali menyita perhatian publik. Angka fantastis itu sempat memicu spekulasi, seolah-olah dana tersebut hanya digunakan untuk mencuci pakaian Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim.
Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Provinsi Kaltim langsung memberikan klarifikasi. Mereka menegaskan bahwa anggaran tersebut tidak semata-mata untuk kebutuhan pribadi kepala daerah, melainkan mencakup operasional berbagai fasilitas besar yang aktif digunakan setiap hari.
Plt Kepala Biro Umum Setda Kaltim, Astri Intan Nirwangi, menjelaskan bahwa polemik ini muncul karena banyak pihak hanya melihat judul item pengadaan di Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP), tanpa menelusuri rincian lengkapnya.
“Yang terbaca publik hanya laundry pakaian kepala daerah Rp 450 juta. Padahal kalau dilihat detailnya, bukan hanya pakaian. Ada karpet, gorden, sprei, bed cover, hingga perlengkapan jamuan seperti penutup meja dan kursi,” ungkap Astri dalam konferensi pers di Kantor Diskominfo Kaltim, Selasa (5/5/2026).
Ia menegaskan, anggaran tersebut digunakan untuk menunjang aktivitas operasional sejumlah fasilitas yang dikelola Biro Umum. Terlebih sejak kebijakan efisiensi diberlakukan, banyak kegiatan pemerintahan yang kini dipusatkan di kawasan rumah jabatan gubernur.
“Sekarang banyak kegiatan OPD, acara keagamaan, hingga pertemuan organisasi masyarakat digelar di sini. Otomatis kebutuhan operasional ikut meningkat,” jelasnya.
Astri juga menekankan bahwa kawasan rumah jabatan gubernur bukan hanya satu bangunan, melainkan kompleks yang terdiri dari pendopo, guest house, ruang VIP, hingga musala yang hampir tak pernah sepi aktivitas.
“Di musala misalnya, setiap hari ada pengajian dan salat berjamaah. Perlengkapan seperti mukena, sajadah, dan karpet tentu harus rutin dicuci,” tambahnya.
Aktivitas di guest house dan ruang VIP pun disebut berlangsung hampir tanpa jeda. Fasilitas tersebut kerap digunakan oleh tamu penting, mulai dari pejabat nasional hingga kepala daerah dari luar Kalimantan.
“Guest house memiliki 10 kamar dan hampir setiap hari terisi. Banyak tamu pemerintah yang transit atau menginap di sana,” ujarnya.
Tingginya mobilitas kegiatan ini berdampak langsung pada penggunaan anggaran. Bahkan, hingga Mei 2026, realisasi anggaran laundry disebut telah mendekati 50 persen.
“Sejak awal tahun, tamu datang silih berganti. Selesai satu kegiatan, langsung disusul agenda lain. Jadi wajar jika operasionalnya tinggi,” kata Astri.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa pencucian karpet dan gorden seharusnya masuk dalam pos pemeliharaan. Menurutnya, kedua hal tersebut memiliki kategori anggaran yang berbeda.
“Kalau rusak itu masuk pemeliharaan. Tapi kalau dicuci, itu termasuk jasa laundry. Jadi memang berbeda,” tegasnya.
Astri menambahkan, seluruh rincian anggaran sebenarnya sudah dipublikasikan secara terbuka melalui SiRUP dan dapat diakses oleh siapa saja.
“Semua sudah dijelaskan di deskripsi pekerjaan. Jadi jangan hanya melihat judul dan nominalnya saja,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kepala Diskominfo Kaltim, Muhammad Faisal, mengimbau masyarakat untuk membaca informasi secara utuh sebelum menarik kesimpulan.
“Jangan berhenti di judul. Buka rinciannya, pahami isinya secara menyeluruh,” katanya.
Ia memastikan seluruh proses pengadaan di lingkungan Pemprov Kaltim berlangsung transparan dan bisa diakses publik secara online.
“Semua terbuka. Siapa pun bisa melihat dan mengecek detailnya langsung,” pungkasnya.











