SAMARINDA — Bank Indonesia (BI) menyoroti tingginya ketergantungan ekonomi Kalimantan terhadap sektor pertambangan dan komoditas mentah. Di tengah dinamika ekonomi global serta ambisi Indonesia menuju negara berpendapatan tinggi, Kalimantan dinilai perlu segera melakukan transformasi ekonomi agar lebih berdaya saing, berkelanjutan, dan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar.
Koordinator Wilayah Bank Indonesia Kalimantan, Aloysius Donanto, mengatakan struktur ekonomi Kalimantan hingga kini masih didominasi industri tambang serta sektor pengolahan berbasis crude palm oil (CPO). Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perekonomian daerah masih sangat bergantung pada eksploitasi sumber daya alam.
“Kalau melihat kondisi Kalimantan saat ini, sektor tambang masih mendominasi. Begitu juga sektor pertanian dan industri pengolahan, terutama yang berbasis CPO,” ujarnya.
Ia menegaskan, pola pertumbuhan ekonomi seperti itu tidak bisa terus dipertahankan apabila Kalimantan ingin naik kelas menjadi kawasan dengan pendapatan tinggi. Menurut Donanto, penguatan sektor hilirisasi dan diversifikasi ekonomi menjadi langkah penting agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan.
“Transformasi ekonomi di Kalimantan harus mampu menjaga pertumbuhan tetap tinggi, merata, dan yang paling penting berkelanjutan,” katanya.
Selama ini, lanjut dia, sektor tambang memang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi di Pulau Kalimantan. Namun tanpa pengembangan industri bernilai tambah dan perluasan sektor ekonomi lainnya, peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat akan semakin terbatas.
Donanto mengungkapkan, Gross National Income (GNI) Indonesia saat ini masih berada di kisaran USD4.900 per kapita atau masuk kategori upper middle income country. Sementara untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi, Indonesia setidaknya harus mampu menyentuh angka sekitar USD14 ribu per kapita.
“Kalau struktur ekonominya tidak berubah, akan sangat sulit bagi kita untuk naik ke level itu,” tegasnya.
Ia menilai Kalimantan sebenarnya memiliki modal besar untuk melakukan lompatan ekonomi. Dengan jumlah penduduk kurang dari 20 juta jiwa, kontribusi ekonomi Kalimantan terhadap produk domestik bruto nasional dinilai cukup besar dan strategis.
Selain itu, keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) disebut menjadi momentum penting untuk mempercepat transformasi ekonomi di wilayah tersebut. Namun Donanto mengingatkan, kebutuhan IKN ke depan bukan hanya bahan mentah, melainkan dukungan sektor jasa, industri modern, hingga produk bernilai tambah tinggi.
“Kita berharap ketika IKN mulai berjalan efektif, kebutuhan sumber dayanya bisa dipenuhi dari Kalimantan sendiri. Tetapi kita juga harus realistis, apakah Kalimantan sudah siap menopang kebutuhan sebesar itu,” ujarnya.
Menurutnya, percepatan transformasi ekonomi juga membutuhkan dukungan investasi yang masif. Karena itu, pemerintah daerah perlu menciptakan iklim investasi yang sehat dan kompetitif agar mampu menarik minat investor masuk ke Kalimantan.
“Investasi pasti dibutuhkan. Tantangannya sekarang adalah bagaimana investasi itu benar-benar bisa direalisasikan dan memberikan dampak nyata bagi daerah,” katanya.
BI berharap transformasi ekonomi Kalimantan tidak hanya mengejar pertumbuhan jangka pendek, tetapi mampu membangun fondasi ekonomi yang lebih kokoh, adaptif, dan tahan menghadapi tekanan global di masa mendatang.











