TENGGARONG – Di tengah derasnya arus penggunaan gawai yang kian menguasai keseharian, sekelompok pemuda di Kutai Kartanegara (Kukar) justru memilih jalur berbeda. Mereka menghadirkan lapak baca gratis di Taman Pintar, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, sebagai bentuk ajakan kembali mencintai buku.
Melalui Komunitas Pixelarasi, inisiatif ini lahir dari kegelisahan akan rendahnya minat baca di tengah masyarakat. Keresahan itu kemudian diwujudkan menjadi aksi nyata dengan menghadirkan ruang literasi alternatif di area publik yang mudah diakses siapa saja.
Setiap Minggu sore, sudut taman tersebut berubah suasana. Tikar sederhana dibentangkan, deretan buku ditata rapi, dan pengunjung dipersilakan membaca dengan bebas tanpa syarat.
Langkah kecil ini menjadi simbol perlawanan terhadap semakin memudarnya budaya membaca, terutama di kalangan generasi muda yang kini lebih akrab dengan layar dibanding halaman buku.
Salah satu anggota Pixelarasi, Fajar, mengungkapkan keinginannya menciptakan suasana membaca yang lebih santai dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin menghadirkan ruang yang terbuka dan tidak kaku, supaya masyarakat, khususnya anak muda, bisa kembali merasa dekat dengan buku,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).
Lapak baca ini menyediakan beragam jenis buku, mulai dari bacaan anak hingga literatur umum yang bisa dinikmati semua kalangan. Tanpa aturan yang rumit, siapa pun cukup datang, duduk, lalu tenggelam dalam bacaan.
Suasana yang tercipta pun jauh dari kesan formal. Anak-anak terlihat asyik membolak-balik halaman, remaja larut dalam cerita, sementara sebagian lainnya berdiskusi ringan dengan buku di tangan.
Konsep ruang terbuka ini menghadirkan pengalaman membaca yang lebih hangat dan fleksibel. Taman yang biasanya hanya menjadi tempat bersantai kini perlahan bertransformasi menjadi ruang belajar yang inklusif.
Menurut Fajar, membaca di ruang terbuka memberikan sensasi berbeda yang lebih menyenangkan. Interaksi sosial tetap terjalin, tanpa mengurangi fokus pada aktivitas membaca.
“Di sini orang bisa membaca sambil bersantai. Harapannya, membaca tidak lagi dianggap membosankan, tapi jadi kegiatan yang menyenangkan,” tambahnya.
Tak hanya itu, lapak baca ini juga mengajak masyarakat untuk turut berpartisipasi, baik dengan menyumbangkan buku maupun terlibat langsung dalam kegiatan. Dengan begitu, gerakan ini berkembang menjadi milik bersama, bukan sekadar komunitas.
Seiring berjalannya waktu, koleksi buku terus bertambah dan jumlah pengunjung semakin meningkat. Dari sebuah tikar sederhana, gerakan ini mulai memberi dampak nyata dalam membangun kembali kebiasaan membaca di ruang publik.
“Meski dimulai dari langkah kecil, kami berharap ini bisa menumbuhkan kembali minat baca masyarakat di Tenggarong,” tutup Fajar.











